search catalogue
catalogue

Documentation of Kereho, an endangered language in Central Borneo

Language Kereho
Depositor Dwiani Septiana, Andi Indah Yulianti, Firman A.D.
Affiliation Research Center for Language and Literature Preservation – National Research and Innovation
Agency (BRIN), Indonesia
Location Indonesia
Collection ID 0826
Grant ID SG1100
Funding Body Endangered Languages Documentation Programme (ELDP)
Collection Status Forthcoming
Landing Page Handle http://hdl.handle.net/2196/26d52b7a-324c-4552-b3be-147a91e4d96c

 

Summary of the collection

English: This collection documents the Kereho language of Central Kalimantan, Indonesia. It includes approximately 8 hours of audio and video recordings of natural conversations, traditional stories, songs, community events, and other genres. All materials will be collected in close collaboration with the Kereho community. The recordings will be transcribed and translated into Indonesian, with selected portions also translated into English. This collection is the first systematic documentation of the Kereho language, aiming to support both linguistic research and community-led language revitalization efforts.

Indonesian: Koleksi ini mendokumentasikan bahasa Kereho di Kalimantan Tengah, Indonesia. Koleksi ini mencakup sekitar 8 jam rekaman audio dan video dari percakapan alami, cerita tradisional, lagu, kegiatan komunitas, dan berbagai genre lainnya. Semua materi akan dikumpulkan melalui kerja sama erat dengan komunitas Kereho. Rekaman ditranskripsi dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan beberapa bagian juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Koleksi ini merupakan dokumentasi sistematis pertama terhadap bahasa Kereho dan bertujuan mendukung riset linguistik sekaligus upaya revitalisasi bahasa oleh komunitas.

 

Group represented

English: The Kereho people are a small Dayak group residing along the upper Busang River in Seribu Riam District, Murung Raya Regency, Central Kalimantan, Indonesia. They have historically lived in small, riverine settlements and rely on swidden agriculture, hunting, and gathering. The community maintains strong oral traditions, including storytelling, ritual speech, and knowledge of forest ecology. Their language, Kereho (ISO 639-3: xke), is critically endangered and spoken fluently by fewer than 200 people, mostly elders in Dusun Terunoi, Tumbang Jojang Village. The Kereho identify culturally and historically with the broader Dayak groups but maintain distinct linguistic and cultural practices.

Indonesian: Orang Kereho adalah kelompok Dayak yang bermukim di sepanjang hulu Sungai Busang, Kecamatan Seribu Riam, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Mereka secara tradisional tinggal di permukiman kecil di tepi sungai dan menggantungkan hidup pada pertanian ladang berpindah, berburu, dan meramu. Komunitas ini memiliki tradisi lisan yang kuat, termasuk cerita rakyat, tuturan ritual, dan pengetahuan ekologi hutan. Bahasa mereka, Kereho (ISO 639-3: xke), tergolong sangat terancam punah dan hanya digunakan secara aktif oleh kurang dari 200 penutur, sebagian besar merupakan orang tua di Dusun Terunoi, Desa Tumbang Jojang. Secara budaya dan historis, mereka terkait dengan kelompok Dayak yang lebih luas, tetapi memiliki praktik linguistik dan budaya yang khas.

 

Language information

English: Kereho (ISO 639-3: xke) is an endangered Austronesian language spoken by fewer than 200 people in Central Kalimantan, Indonesia. It is primarily used in Dusun Terunoi, Tumbang Jojang Village, Seribu Riam District, Murung Raya Regency. Kereho is part of the Malayic subgroup but remains structurally and lexically distinct from surrounding Malay varieties and Indonesian. The language is no longer transmitted to children and is used mainly by older speakers in daily interaction, ritual speech, and storytelling. There is no established writing system, and this project develops a practical orthography in collaboration with speakers. Kereho has not been the subject of previous linguistic description or documentation.

Indonesian: Bahasa Kereho (ISO 639-3: xke) adalah bahasa Austronesia yang terancam punah dan dituturkan oleh kurang dari 200 orang di Kalimantan Tengah, Indonesia. Bahasa ini terutama digunakan di Dusun Terunoi, Desa Tumbang Jojang, Kecamatan Seribu Riam, Kabupaten Murung Raya. Kereho tergolong dalam subkelompok bahasa Melayu, tetapi memiliki ciri struktur dan kosakata yang berbeda dari varian Melayu sekitarnya maupun Bahasa Indonesia. Bahasa ini tidak lagi diturunkan kepada generasi muda, dan kini hanya digunakan oleh penutur lanjut usia dalam interaksi sehari-hari, tuturan ritual, dan cerita tradisional. Belum ada sistem tulisan yang mapan, dan proyek ini mengembangkan ortografi praktis bersama penutur. Kereho belum pernah dideskripsikan atau didokumentasikan secara linguistik sebelumnya.

 

Special characteristics

English: This collection is unique because it is the first comprehensive documentation of the Kereho language. Most of the materials are recorded in natural settings with native speakers, including elders who hold local knowledge. Several community products have also been developed from the documentation, such as illustrated dictionary for children and videos about Kereho cultural practices. The collection includes recordings of traditional healing practices, songs that are no longer commonly performed, and personal narratives that preserve the oral history of the Kereho community.

Indonesian: Koleksi ini unik karena merupakan pendokumentasian komprehensif pertama terhadap bahasa Kereho. Sebagian besar materi direkam dalam konteks alami bersama penutur asli, termasuk para tetua yang memiliki pengetahuan lokal. Sejumlah produk komunitas juga dikembangkan dari dokumentasi ini, seperti kamus bergambar untuk anak-anak dan video tentang praktik budaya Kereho. Koleksi ini mencakup rekaman tentang praktik pengobatan tradisional, lagu-lagu yang kini jarang dipertunjukkan, dan narasi pribadi yang merekam sejarah lisan komunitas Kereho.

 

Collection contents

English: This collection will be developed through fieldwork starting in September 2025 in Central Kalimantan, Indonesia, as part of an ELDP-funded project. Data collection during this period will focus on everyday conversations, stories, songs, and community events. Data processing will include video editing, transcription, and translation into Indonesian and partial translation into English. Materials from this phase will be archived with ELAR in May 2026.

Indonesian: Koleksi ini dikembangkan melalui kerja lapangan yang akan dimulai pada September 2025 di Kalimantan Tengah, Indonesia, sebagai bagian dari proyek yang didanai ELDP. Pengumpulan data selama periode ini berfokus pada percakapan sehari-hari, cerita, lagu, dan kegiatan komunitas. Pemrosesan data meliputi penyuntingan video, transkripsi, dan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia serta sebagian ke dalam bahasa Inggris. Materi dari fase ini akan diarsipkan di ELAR pada Mei 2026.

 

Collection history

English: This collection will be developed through fieldwork starting in September 2025 in Central Kalimantan, Indonesia, as part of an ELDP-funded project. Data collection during this period will focus on everyday conversations, stories, songs, and community events. Data processing will include video editing, transcription, and translation into Indonesian and partial translation into English. Materials from this phase will be archived with ELAR in May 2026.

Indonesian: Koleksi ini dikembangkan melalui kerja lapangan yang akan dimulai pada September 2025 di Kalimantan Tengah, Indonesia, sebagai bagian dari proyek yang didanai ELDP. Pengumpulan data selama periode ini berfokus pada percakapan sehari-hari, cerita, lagu, dan kegiatan komunitas. Pemrosesan data meliputi penyuntingan video, transkripsi, dan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia serta sebagian ke dalam bahasa Inggris. Materi dari fase ini akan diarsipkan di ELAR pada Mei 2026.

 

Other Information

English: The recordings in this collection use a practical orthography developed in collaboration with native speakers, reflecting common usage in the Kereho community. Variations in transcription may occur, especially in representing certain phonemes, as the priority was on producing transcriptions that were accessible and clear to native speakers involved in the project. Additionally, some materials include background sounds from natural recording contexts to preserve authenticity.

Indonesian: Rekaman dalam koleksi ini menggunakan ortografi praktis yang dikembangkan bersama penutur asli, mencerminkan penggunaan umum dalam komunitas Kereho. Variasi transkripsi mungkin terjadi, terutama dalam representasi beberapa fonem, karena prioritas diberikan pada transkripsi yang mudah dipahami oleh penutur asli yang terlibat dalam proyek. Selain itu, beberapa materi tetap mempertahankan suara latar dari konteks perekaman alami untuk menjaga keaslian.

 

References

Sellato, B., & Soriente, A. (2015). The languages and peoples of the Müller Mountains: A contribution to the study of the origins of Borneo’s nomads and their languages. Wacana, 16(2), 339–354. https://doi.org/10.17510/wacana.v16i2.381

Septiana, D. (2023). Phonological Variation on Tomun Languages in Lamandau, Central Kalimantan. Lingua: Jurnal Ilmu Bahasa Dan Sastra, 18(1), 51–60. http://dx.doi.org/10.18860/ling.v18i1.19759

Soriente, A., & Inagaki, K. (2012). Kalimantan languages: An overview of current research and documentation. In Current Trends of Linguistic Research of Indigenous Languages in Indonesia. https://lingdy.aa-ken.jp/wp-content/uploads/2012/01/120217_soriente_inagaki_h2.pdf

Himmelmann, Nikolaus P. (1998). Documentary and descriptive linguistics. Linguistics, 36(1), 161–195. https://doi.org/10.1515/ling.1998.36.1.161

Woodbury, Anthony C. (2011). Language documentation. In P. K. Austin & J. Sallabank (Eds.), The Cambridge Handbook of Endangered Languages (pp. 159–186). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511975981.010

 

Acknowledgement and citation

English: Users of any part of this collection should acknowledge Dwiani Septiana as the principal investigator, and Andi Indah Yulianti and Firman A.D. as core members of the research team. The Endangered Languages Documentation Programme (ELDP) should be acknowledged as the funder of this project. When using parts of the corpus, please also acknowledge by name the individuals who contributed recordings, as well as any speakers or community members appearing in the materials, as detailed in the metadata.

Indonesian: Pengguna sebagian atau seluruh bagian koleksi ini harus mencantumkan Dwiani Septiana sebagai peneliti utama, serta Andi Indah Yulianti dan Firman A.D. sebagai anggota inti tim riset. Endangered Languages Documentation Programme (ELDP) harus dicantumkan sebagai lembaga pendana proyek ini. Jika menggunakan sebagian korpus, mohon juga mencantumkan nama individu yang merekam data, serta penutur atau anggota komunitas yang muncul dalam materi, sebagaimana tercantum dalam metadata.

To refer to any data from the collection, please cite as follows:
Septiana, Dwiani, Yulianti, Andi Indah, and Firman A.D. 2025. Documentation of Kereho, an endangered language in central Borneo. Endangered Languages Archive. Handle: http://hdl.handle.net/2196/2475b31f-0e19-4bf3-bde5-13fd14dcaf7d. Accessed on [insert date here].

Click to access collection

Powered by Preservica
© Copyright 2025