Initial Language Documentation in Leti

Training process of a Leti’s fieldworker. Photo of (left to right) Lita Maiwar, Ersi Serandoma, and Yunitha Rupy by Renhard Saupia 2024. Click on image to access collection.
| Language | Leti |
| Depositor | Renhard Saupia |
| Affiliation | Massachusetts Institute of Technology (MIT) |
| Location | Indonesia |
| Collection ID | 0795 |
| Grant ID | SG1061 |
| Funding Body | ELDP |
| Collection Status | Collection online |
| Landing Page Handle | http://hdl.handle.net/2196/1d4c820a-557f-48f6-8398-6393765e61e1 |
Summary of the collection
English: This collection represents an initial effort in documenting and preserving the Leti language. At present, the language is undergoing a shift, with the majority of speakers—especially the younger generation—using Ambonese Malay as their primary means of communication. The collection was completed by the principal investigator, Renhard Saupia, in affiliation with the Department of Linguistics at the Massachusetts Institute of Technology (MIT), with the full support of the head of the Leti sub-district and the village heads of Tutuwaru, Luhulely, Nuwewang, Tomra, and Batumiau.
Ringkasan koleksi ini
Bahasa Indonesia: Koleksi ini merupakan upaya awal dalam mendokumentasikan dan melestarikan bahasa Leti. Saat ini, bahasa Leti mengalami pergeseran, di mana sebagian besar penuturnya—terutama generasi muda—telah beralih menggunakan Melayu Ambon sebagai bahasa utama dalam komunikasi sehari-hari. Koleksi ini diselesaikan oleh peneliti utama, Renhard Saupia, bekerja sama dengan Departemen Linguistik di Massachusetts Institute of Technology (MIT), dengan dukungan penuh dari camat Pulau Leti serta para kepala desa dari desa Tutuwaru, Luhulely, Nuwewang, Tomra, dan Batumiau.
Group represented
English: Sociolinguistically, Leti comprises five variations: (1) Leti-Luhulely, spoken in Luhulely and Litutun; (2) Leti-Dailoor, spoken by a very small community in Luhulely; (3) Leti-Tutukey, spoken in Tutukey, Batumiau, and Tutuwaru; (4) Leti-Tomra, spoken in Tomra; (5) Leti-Nuwewang, spoken in Nuwewang. This documentation covers all five variations. Communities in Laitutun and Batumiau tend to identify themselves as distinct variations, although this claim requires further research. Dialect mixing has also been observed in Tutuwaru, where speech shows influence from Nuwewang. The main documentation was conducted in Tutuwaru, Nuwewang, Luhulely, Tomra, and Batumiau. Thanks to the support of village leaders and elders in each of these communities, the documentation process proceeded smoothly.
Kelompok yang diwakili
Bahasa Indonesia: Secara sosiolinguistik, bahasa Leti terdiri atas lima ragam bahasa (dailek): (1) Leti-Luhulely, dituturkan di Luhulely dan Litutun; (2) Leti-Dailoor, dituturkan oleh komunitas kecil di Luhulely; (3) Leti-Tutukey, dituturkan di Tutukey, Batumiau, dan Tutuwaru; (4) Leti-Tomra, dituturkan di Tomra; (5) Leti-Nuwewang, dituturkan di Nuwewang. Proses dokumentasi mencakup kelima variasi tersebut. Komunitas di Laitutun dan Batumiau cenderung mengidentifikasi diri sebagai variasi yang berbeda, meskipun klaim ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Pencampuran dialek juga ditemukan di Tutuwaru, di mana tuturan mereka menunjukkan pengaruh dari Nuwewang. Dokumentasi utama dilakukan di Tutuwaru, Nuwewang, Luhulely, Tomra, dan Batumiau. Berkat dukungan para kepala desa dan para tetua di masing-masing komunitas, proses dokumentasi dapat berjalan dengan baik.
Collection contents
English: This documentation corpus includes 15 hours 35 minutes of naturalistic conversation and 5 hours 16 minutes of formulaic-speech videos. The audio set comprises 19 hours 59 minutes of extracted recordings, 41 minutes of formulaic speech, and 2 hours 22 minutes of wordlist elicitation. These audio and video materials are accompanied by 14 hours 6 minutes of orthographic transcription, 13 hours 56 minutes of Indonesian translations, 13 hours 3 minutes of English translations, and 7 hours 51 minutes of interlinear glossing (1,838 entries). The collection also contains 206 photographs featuring plants, animals, and local knowledge.
Rincian koleksi ini
Bahasa Indonesia: Korpus dokumentasi ini mencakup 15 jam 35 menit percakapan naturalistik dan 5 jam 16 menit video tutur formulaik. Kumpulan audio terdiri atas 19 jam 59 menit rekaman hasil ekstraksi, 41 menit tutur formulaik, dan 2 jam 22 menit elisitasi daftar kata. Materi audio dan video ini disertai 14 jam 6 menit transkripsi ortografis, 13 jam 56 menit terjemahan bahasa Indonesia, 13 jam 3 menit terjemahan bahasa Inggris, serta 7 jam 51 menit pengglosan antarbaris (1.838 entri). Koleksi ini juga memuat 206 foto yang mendokumentasikan tumbuhan, hewan, dan kearifan lokal.
Language information
English: The term Leti refers to a people, an ethnicity, and a language. Leti [lti] is an Austronesian language classified within the Malayo-Polynesian branch, specifically the Central–Eastern Malayo-Polynesian, Timor-Babar, and Southwest Maluku subgroups. It is spoken on Leti Island, where the native name for the language is ‘Lirleti’. Leti shares 89% lexical similarity with Luang [lex] and currently has an estimated 400–600 active speakers, with numbers in decline (Eberhard et al., 2025). The language is undergoing a major shift: children and younger generations are passive speakers, while adults and elders are strongly bilingual in Ambonese Malay and Leti. According to the 2023 government census of Southwest Maluku Regency, the island’s population is 9,019, with 54.25% aged between 5 and 34 years (BPS-Statistics, 2024). Given this demographic distribution, Leti is at risk of becoming severely endangered within the next 10 to 20 years without timely intervention.
Informasi tentang kebahasaan
Bahasa Indonesia: Istilah Leti merujuk pada suatu bangsa, etnis, sekaligus bahasa. Leti [lti] adalah bahasa Austronesia dalam cabang Malayo-Polinesia, yang secara khusus diklasifikasikan ke dalam subkelompok Malayo-Polinesia Tengah-Timur, Timor-Babar, dan Maluku Barat Daya. Bahasa ini dituturkan di Pulau Leti, dengan nama asli Lirleti. Bahasa Leti memiliki kesamaan leksikal sebesar 89% dengan bahasa Luang [lex] dan saat ini diperkirakan hanya memiliki 400–600 penutur aktif, dengan jumlah yang terus menurun (Eberhard dkk., 2025). Bahasa Leti sedang mengalami pergeseran signifikan: anak-anak dan generasi muda umumnya hanya menjadi penutur pasif, sementara orang dewasa dan orang tua bersifat dwibahasa kuat dalam Bahasa Melayu Ambon dan Leti. Berdasarkan sensus pemerintah tahun 2023 di Kabupaten Maluku Barat Daya, jumlah penduduk Pulau Leti mencapai 9.019 jiwa, dengan 54,25% berusia antara 5 hingga 34 tahun (BPS-Statistics, 2024). Dengan profil demografis ini, Leti berisiko menjadi bahasa yang sangat terancam dalam 10 hingga 20 tahun mendatang tanpa adanya intervensi tepat waktu.
Collection history
English: This project was primarily funded by the Endangered Languages Documentation Programme (ELDP, SG1061), the Kenneth L. Hale Fellowship, and the MIT Indigenous Language Initiative (MITILI) Fellowship, running from August 2024 to September 2025. Training for the principal investigator took place in Berlin in June 2024, followed by training and knowledge transfer to the local fieldworker in September, with the first fieldwork beginning in October 2024. In January 2025, Renhard (the principal investigator) returned to MIT to complete his Master’s program in Linguistics. During this time, the project was carried out by the local fieldworker under remote supervision. After graduating in May 2025, he returned to Leti to finalize the project. This collection is archived with ELAR and includes as its main output a dictionary book with a short introduction to Leti and its writing system.
Timeline dokumentasi
Bahasa Indonesia: Proyek ini didanai terutama oleh Endangered Languages Documentation Programme (ELDP, SG1061), Kenneth L. Hale Fellowship dan MIT Indigenous Language Initiative (MITILI) Fellowship, berlangsung dari Agustus 2024 hingga September 2025. Pelatihan untuk peneliti utama dilakukan di Berlin pada Juni 2024, dilanjutkan dengan pelatihan dan transfer pengetahuan kepada tenaga lapangan lokal pada September, serta dimulainya kerja lapangan pertama pada Oktober 2024. Pada Januari 2025, Renhard (peneliti utama) kembali ke MIT untuk menyelesaikan program Magisternya di bidang Linguistik. Selama periode ini, proyek dijalankan oleh tenaga lapangan lokal dengan pengawasan jarak jauh. Setelah lulus pada Mei 2025, ia kembali ke Leti untuk menyelesaikan proyek. Koleksi ini diarsipkan di ELAR dengan output utama berupa buku kamus yang dilengkapi pengantar singkat tentang bahasa Leti dan sistem tulisannya.
Acknowledgement and citation
English: Users of this collection should acknowledge Renhard Saupia as the principal investigator, and Ersi Seresi Serandoma, Ferdinand Mirulewan, and Yunitha Rupy as the core members of the documentation team, as well as the Endangered Languages Documentation Programme (ELDP) as the major funder of this project. Use of specific parts of the corpus should also acknowledge the respective contributor(s), with details available in the metadata.
To refer to any data from the collection, please cite as follows:
Saupia, Renhard. 2024. Initial Language Documentation in Leti. Endangered Languages Archive. Handle: http://hdl.handle.net/2196/5091da0d-e1a8-44d9-93a6-8ca2dd805ba3. Accessed on [insert date here].
Ungkapan terima kasih dan pengutipan
Bahasa Indonesia: Pengguna koleksi ini wajib mencantumkan Renhard Saupia sebagai peneliti utama, serta Ersi Seresi Serandoma, Ferdinand Mirulewan, dan Yunitha Rupy sebagai anggota inti tim dokumentasi, dan Endangered Languages Documentation Programme (ELDP) sebagai pendana utama proyek ini. Penggunaan bagian tertentu dari korpus juga harus mencantumkan kontributor terkait, sebagaimana tercantum dalam metadata.
Untuk merujuk data dari koleksi ini, silakan sitasi sebagai berikut:
Saupia, Renhard. 2024. Initial Language Documentation in Leti. Endangered Languages Archive. Handle: http://hdl.handle.net/2196/5091da0d-e1a8-44d9-93a6-8ca2dd805ba3. Diakses pada [masukkan tanggal di sini].

