Collaborative documentation and description of Saparua: An endangered language of Maluku

Fishing boats docked in Haria Harbor in Southwest Saparua. Photo by Erniati 2021. Click on image to access collection.
| Language | Saparua |
| Depositor | Khairunnisa, Leah Pappas, Erniati, Nur E Holle |
| Affiliation | Mandalika University of Education, Bennington College, BRIN National Research and Innovation Agency |
| Location | Indonesia |
| Collection ID | 0738 |
| Grant ID | MDP0457 |
| Funding Body | ELDP |
| Collection Status | Collection online |
| Landing Page Handle | http://hdl.handle.net/2196/dcbd0c4e-0179-4377-8bef-0a319f4babfa |
Summary of the collection
English: This collection is the result of a documentation project of Sirisori (Saparua), funded by the Endangered Languages Documentation Programme through a Major Documentation Projects grant for the period of 2022-2026. The project is a collaborative effort between foreign and local linguists, local institutions and governments, and speakers to document the language and culture of Sirisori speakers. With a focus on active community involvement, data collection will take place both in the field and remotely from Lombok and the USA. The collection comprises audio and video recordings of annotated natural speech and elicitation, digital pictures, and training materials. The original host institution for the grant was Universitas Pendidikan Mandalika. and the current host institution is the University of Hawai’i at Mānoa.
Ringkasan arsipi
Bahasa Indonesia: Arsip ini merupakan hasil riset dokumentasi Saparua (disebut juga Bahasa Siri Sori dan Kulur oleh penuturnya), yang didanai oleh Program Dokumentasi Bahasa Terancam Punah (ELDP) melalui hibah Major Documentation Project (MDP) periode 2022-2026. Program riset ini merupakan upaya kolaborasi antara ahli bahasa asing dan lokal, lembaga dan pemerintah lokal, serta masyarakat penutur untuk mendokumentasikan bahasa dan budaya penutur Bahasa Saparua. Dengan fokus pada keterlibatan aktif masyarakat, pengumpulan data dilakukan baik di lapangan maupun jarak jauh dari Lombok, Jakarta, dan Amerika. Arsip ini terdiri dari rekaman audio dan video ucap tutur yang bersifat spontan dan elisitasi beranotasi, transkripsi atau rekaman ELAN, gambar digital, dan materi pelatihan. Lembaga penerima hibah ini awalnya adalah Universitas Pendidikan Mandalika dan sekarang lembaga penerima hibah ini adalah University of Hawai’i at Mānoa.
Group represented
English: The people represented in this collection are those of Saparua island who speak Saparua, also called Bahasa Siri Sori and Bahasa Kulur by its speakers. The island is part of the Lease Islands chain and located to the east of Ambon island, Maluku. The speakers of Saparua are the minority Muslim community inhabiting two villages on the island: Siri Sori Islam and Kulur. The majority groups inhabiting the rest of the villages on Saparua are Christians who speak Ambon Malay, a dominant Malay variety in the province of Maluku. There has been inter-religion conflict over recent decades, but the people of Maluku including on Saparua foster their cultural practices in order to live side by side peacefully. They continue practicing an ancient tradition known as pela ‘tie, bond, brother’ which dates to the 19th century and symbolizes resistance against the Dutch. Nowadays, the spirit of pela is realized as an alliance between different villages who pledge to help and support each other. The majority of people living in Siri Sori Islam and Kulur are farmers and fishermen. They care for the environment using a sustainable farming and fishing system known as the sasi system. In this cultural system, areas of resource extraction are rotated in order to give species, both in the sea and land, the opportunity to recover their population and thus preserve the abundance of resources. Common crops that are cultivated on Saparua include lontar, coconut, nutmeg, cloves, and cassava. The sasi system has been implemented across generations among farmers and fishermen.
Kelompok masyarakat yang diwakili
Bahasa Indonesia: Masyarakat yang diwakili dalam koleksi digital ini adalah masyarakat pulau Saparua, penutur Bahasa Saparua,juga dikenal dengan Bahasa Siri Sori dan Kulur oleh penuturnya. Pulau kecil tersebut terletak di sebelah timur pulau Ambon, Maluku. Penutur Bahasa Saparua merupakan komunitas Muslim minoritas yang mendiami dua desa Muslim di pulau itu: Desa Siri Sori Islam dan Kulur. Kelompok mayoritas yang mendiami desa-desa lainnya di Saparua merupakan umat Kristen selaku penutur Bahasa Melayu Ambon, salah satu varietas Bahasa Melayu yang dominan di provinsi Maluku. Konflik antaragama telah terjadi selama beberapa dekade terakhir, namun masyarakat Maluku termasuk di Saparua terus melestarikan budaya mereka untuk hidup berdampingan secara damai. Mereka terus menjalankan tradisi kuno yang dikenal sebagai pela ‘tali, ikatan, saudara’ yang berasal dari abad ke-19 dan melambangkan perlawanan terhadap Belanda. Sekarang, jiwa pela terwujud sebagai persekutuan antar desa yang berikrar untuk saling membantu dan mendukung. Mayoritas penduduk di Siri Sori Islam dan Kulur bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka membudidayakan tanaman lontar, kelapa, palam cengkeh, dan singkong. Mereka peduli terhadap lingkungan dengan menggunakan sistem pertanian dan perikanan berkelanjutan yang dikenal sebagai sistem sasi. Dalam sistem budaya ini, daerah ekstraksi sumber daya dirotasikan untuk memberikan spesies baik di laut dan darat, kesempatan untuk memulihkan populasi mereka sehingga kelimpahan spesies terjaga. Sistem sasi telah diterapkan secara turun-temurun di kalangan petani dan nelayan.
Language information
English:Saparua (ISO-396-3 spr) is a Malayo-Polynesian language spoken on the islands of Saparua and Seram, which are located in the province of Maluku, Indonesia. According to Ethnologue, in 1989, Saparua was spoken by fewer than 10,200 speakers and was classified as moribund. Today, this number is likely less than 2,000 on the island of Saparua. In the past Saparua was spoken throughout the island of Saparua. However, since the 1980s, the geographic spread of Saparua has shrunk to only two villages on the island of Saparua–Siri Sori Islam and Kulur. It is also spoken in several villages in the southwest of Seram island, and among a diaspora living in Ambon. The endangerment of Saparua was initially exacerbated by a fraught history entangled with Dutch colonial rule and the spread of Christianity that resulted in the continued marginalization of Saparua speakers. This loss of speakers is also, in part, linked to globalization, increased access to higher education, increased movement between islands, and contact with Standard Indonesian and the local Malay variety, Ambon Malay.
Tentang Bahasa
Bahasa Indonesia: Bahasa Saparua (ISO-396-3 spr) adalah Bahasa Melayu-Polinesia yang dituturkan di pulau Saparua dan Seram, yang terletak di provinsi Maluku, Indonesia. Menurut Ethnologue, berdasarkan data yang dikumpulkan pada tahun 1989, Bahasa Saparua dituturkan oleh kurang dari 10.200 penutur dan tergolong hampir mati (menuju kepunahan). Saat ini, jumlah penutur sudah kurang dari 2.000 di pulau Saparua. Dahulu, Bahasa Saparua masih dituturkan di seluruh pulau Saparua termasuk oleh diaspora yang tinggal di beberapa desa di sebelah barat daya pulau Seram. Namun sejak tahun 1980-an, sebaran geografis Bahasa Saparua menyusut menjadi hanya dua desa: desa Siri Sori Islam dan Kulur. Pada awalnya, terancamnya Bahasa Saparua diperparah oleh sejarah yang sarat dengan penjajahan Belanda dan penyebaran agama Kristen yang terusmengakibatkan marjinalisasi penutur Bahasa Saparua. Hilangnya penutur ini juga sebagian terkait dengan globalisasi, peningkatan akses ke pendidikan tinggi, peningkatan migrasi antar pulau, dan kontak dengan Bahasa Indonesia dan varietas Melayu lokal, Melayu Ambon.
Special characteristics
English: This collection is multi-dialectal and contains data from Saparua’s primary dialects. The collection includes various genres including conversations, interviews with elders, cooking procedurals, forest walks, dialect comparisons, and elicitation of phonology, grammar, and traditional knowledge.
Ciri-ciri khusus Arsip
Bahasa Indonesia: Koleksi ini bersifat lintas dialek dan berisi data dari dialek-dialek utama Saparua. Koleksi ini mencakup beragam genre termasuk percakapan, interview dengan orang tua, prosedur memasak, jalan-jalan di hutan, perbandingan antar dialek, dan elicitasi fonologi, struktur kalimat, dan pengetahuan tradisional.
Collection contents
English: This collection primarily consists of audio (.wav) and video recordings (.mp4). Many recordings are also accompanied by transcriptions (.etf). Additionally, the collection contains photos from fieldwork and a FLEx database.
Isi Arsip
Bahasa Indonesia: Koleksi ini terutama berisi rekaman audio (.wav) dan video (.mp4). Banyak dari rekaman tersebut juga disertai transkripsi (.etf). Selain itu, di dalam koleksi ini terdapat foto dari lapangan dan database FLEx.
Collection history
English: Data collection took place from August-October 2023 and from July-August 2025 and archiving of materials took place in March 2024, July 2024, and October 2025. Several of the recordings have been transcribed. These have primarily been transcribed and translated by Saparua speakers since the conclusion of data collection.
Riwayat Arsip
Bahasa Indonesia: Pengumpulan data dilakukan dari bulan Agustus sampai Oktober 2023 dan dari bulan Juli sampai Agustus 2025. Penyimpanan data di repositori dilakukan di bulan Maret 2024, bulan Juli 2024, dan bulan Oktober 2025. Beberapa rekaman telah ditranskripsi. Rekaman-rekaman tersebut sebagian besarnya ditranskripsi dan diterjemahkan oleh penutur Bahasa Saparua sejak pengumpulan data selesai.
Acknowledgement and citation
English: Users of any part of the collection should acknowledge Khairunnisa and Leah Pappas as the principal investigators, and they should also acknowledge the Endangered Languages Documentation Programme as the funder of the project. For each bundle, users should acknowledge the speakers, transcribers, and other contributors as listed in the metadata. If a party wishes to use Saparua knowledge for commercial purposes, Saparua speakers should be a party of any contractual agreement.
To refer to any data from the collection, please cite as follows:
Khairunnisa, Leah Pappas, Nur Holle, and Aisa Litiloly. Collaborative documentation and description of Saparua: An endangered language of Maluku. Endangered Languages Archive. http://hdl.handle.net/2196/e6af686b-b06a-4147-83a0-cdbdffe58bee Accessed on [insert date here].
Pengakuan
Bahasa Indonesia: Pengguna yang memanfaatkan bagian manapun dari arsip ini harus mengakui Khairunnisa dan Leah Pappas sebagai peneliti utama, dan mereka juga harus mengakui Program Dokumentasi Bahasa yang Terancam Punah (ELDP) sebagai penyandang dana riset ini. Untuk setiap paket, pengguna harus mengetahui pembicara, petranskripsi, dan kontributor lainnya sebagaimana tercantum dalam metadata. Jika salah satu pihak ingin menggunakan pengetahuan tentang Bahasa Saparua untuk tujuan komersial, penutur Bahasa Saparua harus menjadi pihak yang dilibatkan dalam perjanjian kontrak apa pun.
Untuk merujuk pada data apapun dari arsip ini, silakan kutip sebagai berikut:
Khairunnisa, Leah Pappas, Nur Holle, and Aisa Litiloly. Collaborative documentation and description of Saparua: An endangered language of Maluku. Endangered Languages Archive. http://hdl.handle.net/2196/e6af686b-b06a-4147-83a0-cdbdffe58bee Accessed on [masukan tanggal di sini].

